Kota Bogor Diprediksi Alami Krisis Air Bersih Tahun 2017
Oleh: Humas PDAM - dibaca 3729 kali sejak 14/08/2015 10:05:30

Bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat, saat hujan lebat mengguyur Bogor, Rabu (9/1/2013). Ketinggian air di Bendungan Katulampa mencapai 120 sentimeter melebihi batas normal yaitu 50 sentimeter sehingga ditetapkan status siaga tiga. Warga terutama yang tinggal di daerah bantaran-bantaran sungai dihimbau bersiaga dan mengantisipasi datangnya banjir. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sumber: kompas.com

BOGOR, KOMPAS.com - Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor Untung Kurniadi memprediksi, pada tahun 2017 Kota Bogor akan mengalami krisis air bersih. Sebab, menurut Untung, dengan kapasitas yang ada sekarang tidak akan mencukupi kebutuhan air dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,74 persen per tahunnya.

"Dengan kapasitas sekarang yang hanya mampu mencapai 2.050 liter per detik, saya kira tidak akan cukup. Kapasitas tersebut sudah tidak bisa lagi dilakukan pengembangan, sehingga diprediksi tahun 2017 Kota Bogor akan mengalami krisis air bersih," ujar Untung saat ditemui Kompas.com, Rabu (5/8/2015).

Untung menambahkan, untuk mengatasi kondisi ini, PDAM Kota Bogor telah membangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Katulampa yang ditargetkan akan rampung pada tahun 2017. SPAM Katulampa ini nantinya bakal memproduksi air mencapai 600 liter per detik, sehingga mampu mendistribusikan air bersih untuk wilayah Bogor bagian timur dan utara.

"Setelah proyek ini selesai, untuk zonanisasi distribusi air di Kota Bogor akan kita bedakan. Jadi, untuk sebelah timur Jalan Raya Padjajaran akan disuplai dari SPAM Katulampa, sedangkan sebelah barat tetap akan disuplai dari reservoar pajajaran," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, proyek pembangunan SPAM Katulampa yang menelan biaya mencapai Rp 24 miliar dari anggaran negara tersebut saat ini sudah memasuki tahap lanjutan dari tahap pertama yang sudah selesai. Untuk tahap pertama, kata Untung, yang sudah selesai dikerjakan adalah pembangunanintake, prasidementasi dan bangunan pendukung lainnya.

Sedangkan untuk tahap lanjutan ini, pihaknya fokus pada penyelesaian pemasangan pipa air baku dari presidementasi danwater treatment plant (WTP).

"Anggaran yang dibutuhkan untuk tahap lanjutan ini sebesar Rp 4 miliar. Memang kendala yang ada adalah faktor pembiayaan, karena dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara harus menunggu adanya penyertaan modal berupa dana pendamping dari pemerintah daerah," pungkasnya.(*)