Dirut Studi Banding ke Kota Malang
Oleh: Humas PDAM - dibaca 3465 kali sejak 16/11/2015 22:59:06

Pelajari Metode Penurunan NRW

DISKUSI: Dirut PDAM Kota Bogor H. Untung Kurniadi (ketiga dari kanan) saat studi banding di PDAM Kota Malang, Senin (16/11).

DIREKTUR Utama (Dirut) PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor H. Untung Kurniadi studi banding tentang Non-Revenue Water (NRW) ke PDAM Tirta Dharma Kota Malang, Senin (16/11). Dalam kunjungan kerja ini, Untung diterima langsung Dirut HM Jemianto dan Direktur Administasi dan Keuangan Anita Sari, di kantor PDAM Tirta Dharma Kota Malang di Jalan Wr. Supratman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

Dirut Untung mengatakan, pihaknya sengaja melakukan studi banding ke Kota Malang karena PDAM yang berusia 41 tahun itu sudah berhasil menekan angka NRW hingga 20,90 persen per 1 November 2015. Penanganan kebocoran air yang dilakukan oleh PDAM Kota Malang bahkan disebut-sebut salah satu yang terbaik di Pulau Jawa.

“Penanganan kebocoran di PDAM Kota Malang bisa dikatakan salah satu yang paling baik. Angka rata-rata NRW-nya sudah mencapai 20,90 persen. Makanya PDAM Kota Bogor merasa perlu untuk melakukan studi banding ke Kota Malang. Metode apa yang mereka terapkan, akan coba kita terapkan di Kota Bogor,” ujar Untung.

Pria yang menjabat Dirut PDAM Kota Bogor sejak Januari 2013 ini menegaskan, penanganan kebocoran air sangat penting untuk akselerasi pencapaian target cakupan air minum 100 persen pada 2017. Jika PDAM Kota Bogor dapat menekan angka kebocoran air hingga 20 persen, Untung yakin target tersebut dapat diraih dengan sempurna.

Untung menjelaskan, diperlukan kerja keras dan strategi khusus untuk menekan angka kebocoran air seperti yang telah dicapai PDAM Kota Malang. Salah satu proyek DMA (district meter area). DMA merupakan teknik untuk memantau kebocoran dengan pemasangan meter induk di titik strategis pada sistem distribusi. Setiap meter mencatat aliran masuk pada suatu wilayah kecil yang mempunyai batas-batas permanen. Sistim ini bisa mengoptimalkan pelayanan dan produksi.

“Sejak 2010 PDAM Kota Malang sudah serius mengembangkan proyek DMA. Ini dapat dilihat dari desain awal yang hanya 131, sekarang terealisasi menjadi 142 DMA dan akan terus bertambah sesuai dengan kebutuhan. Hasil positif dari perkembangan DMA tersebut bisa dilihat dari data kebocoran dari 41 persen di tahun 2010 menjadi menjadi 26,60 persen per september 2013 dan 20,90 persen per 1 November 2015,” beber Untung.

Menurut Untung banyak manfaat yang diperoleh dari DMA, yaitu menurunkan angka kebocoran, menjaga pelayanan yang berkualitas berkuantitas dan berkontinuitas (K3) serta mendukung program ZAMP (Zona Air Minum Prima).

“Untuk membangun satu unit DMA dibutuhkan biaya Rp300 juta. Kalau ada 100 DMA, maka dibutuhkan biaya Rp 30 miliar. Cukup mahal, tapi air yang bisa diselamakan bisa mencapai 10 persen. Kalau 10 persen dari 1000 liter/detik produksi, berarti yang terselamatkan adalah 100 liter/detik. Ini lebih murah daripada membuat IPA baru beserta jaringan distribusinya yang bisa mencapai Rp 50 miliar,” beber dia.

Setelah kembali ke Kota Hujan, Untung berjanji bakal membahas hasil kunjungan kerjanya ke Kota Apel itu dengan seluruh jajarannya.

Sementara itu Dirut PDAM Tirta Dharma Kota Malang HM Jemianto senang menerima kunjungan Dirut PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor H. Untung Kurniadi. Dia menyampaikan bahwa PDAM Kota Malang selalu terbuka dalam menerima kunjungan dari instansi-instansi baik pemerintahan maupun swasta.

“Saya senang bisa menerima kunjungan dari Kang Untung Kurniadi. Kita bisa bersilaturahmi dan bertukar pikiran terkait masalah-masalah yang dihadapi PDAM Kota Bogor, maupun PDAM Kota Malang. PDAM Kota Bogor tentu banyak kelebihannya, tapi ada pula kesulitannya. Begitu pula kami di Kota Malang,” imbuh Jemianto.

Jemianto menjelaskan kondisi eksisting PDAM Tirta Dharma hingga awal bulan ini. Per 1 November 2015, jumlah pelanggan PDAM yang berdiri pada 18 Desember 1974 itu mencapai 143.662 pelanggan. Sementara cakupan pelayanannya sudah mencapai 80 persen dari jumlah penduduk Kota Malang sebesar 843.858 jiwa.

“Hingga saat ini kapasitas prioduksi kami sebesar 1.389 liter perdetik yang diproduksi dari 14 sumber air. Air ini kita tampung pada 14 reservoir dengan total volume 22.426 meter kubik. Alhamdulillah kami bisa menekan angka kehilangan air hingga mencapai 20,90 persen, dan akan terus kami kurangi,” kata Jermianto.

Dia menjelaskan, diperlukan kerja keras dan kerja sama lintas instansi untuk bisa menekan angka kebocoran air itu. Karena penanganan kebocoran sangat penting untuk menjaga pelayanan yang berkualitas berkuantitas dan berkontinuitas.(humas dan sosial)