Petang itu Edi Rachmat menuang kopi untuk tamunya di tepas (bahasa Sunda, artinya ruang depan) rumahnya yang sederhana di salah satu kelurahan di Kota Bogor. Ia memandang dengan cemas ke wajah tamu itu, khawatir tamunya akan meletakkan cangkir kopi setelah mereguknya sedikit. Ia hampir pasti tamu akan dengan sopan meneruskan percakapan sambil mengabaikan suguhan kopi tersebut. Edi jarang kedatangan tamu, ia hanyalah seorang buruh kecil yang berumah di pinggiran kota, siapa pula yang peduli menyambanginya. Tapi kali ini pak guru Sona tentu tak akan dibiarkannya berkunjung tanpa kopi, apalagi ia datang untuk memberitahukan mengenai kemajuan anaknya yang ke 3 dan 4 di sekolah mereka. Hatinya berbunga-bunga karena pak guru Sona memuji angka-angka ulangan Endang dan Eni. Mereka tidak pernah absen lagi karena sakit mereka. Edi ingat sampai beberapa bulan yang lalu kedua anak itu selalu bergantian sakit, entah gatal-gatal yang dicurigainya sebagai eksim, atau mencret, atau sakit mata sampai seluruh anggota keluarga tertular dan masih banyak lagi.
“Terimakasih pak Edi, saya pamit dulu. Kopinya enak pak, wah pak Edi sebentar lagi pantas buka warung kopi istimewa di kampung ini,” kata pak guru Sona sambil menyorongkan tangannya bersalaman. Edi tercengang, berarti air untuk kopi ini bagus mutunya karena kopi yang digunakan adalah kopi murah yang sama yang sejak dulu dikonsumsinya. Sambil tergagap ia menjawab : “Ya, ya pak guru, terima kasih. Ini kopi dengan air baru, kopinya tetap sama pak. Saya sudah 2 bulan ini memakai air dari keran sejak PDAM menyambungnya ke kampung kami.” Pak guru Sona malah tergelak, lalu sambil berjalan ke gang sempit depan rumah Edi, beliau berujar ,“Sudah saya duga pak. Saya perhatikan bahwa kedua anak bapak akhir-akhir ini tak pernah mangkir lagi karena sakit. Endang si tukang garuk berhenti menggaruk dan Eni si hidung meler malah ikut-ikut latihan kasti. Pasti ada yang berbeda di rumah Bapak.”
Sosok Edi Rachmat di atas adalah contoh sosok seorang penerima manfaat dari Program Hibah Air Minum, sebuah program hibah yang didukung dengan dana dari pemerintah Australia melalui Pemerintah Daerah dan PDAMnya. Program ini bertujuan untuk memberikan akses air bersih bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di 35 kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Program Hibah Air Minum memberikan bantuan dana hibah untuk pemasangan saluran air minum bagi 76.000 rumah tangga, dan pemasangan saluran pembuangan air kotor untuk 7.000 rumah tangga dalam program sanitasi. Dengan demikian, jika satu rumah tangga rata-rata terdiri dari 5 orang, maka lebih dari 400.000 orang di Indonesia akan mendapatkan akses air bersih dan sistem sanitasi yang lebih baik untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Di antara penerima program Hibah tersebut adalah Pemda Kabupaten dan Kota Bogor.
Pada tanggal 2 Maret 2011, peluncuran Program Hibah Air Minum diselenggarakan di Kampung Lebak Pasar, Desa Benteng, Kec. Ciampea, Kabupaten Bogor. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bogor, H. Karyawan Fathurahman, Direktur Utama PDAM Kabupaten Bogor Tirta Kahuripan, Direktur Utama PDAM Kota Bogor Tirta Pakuan, dan perwakilan dari Prakarsa Infrastruktur Indonesia (IndII) sebagai pelaksana program Hibah Air Minum yang didanai oleh Pemerintah Australia tersebut.
PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor dan Tirta Pakuan Kota Bogor telah mengikuti program ini sejak tahun 2010. Di PDAM kota Bogor, bantuan berupa pemasangan sambungan langsung kepada 1.000 pelanggan telah direalisasikan di enam kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, yakni Kelurahan Gudang, Babakan Pasar, Tegallega, Babakan, Cibogor dan Sempur. Sedangkan di Kabupaten Bogor, 12 kecamatan telah mendapat sambungan air bersih diantaranya adalah Ciampea, Leuwiliang, dan Cibungbulang.
Program Hibah Air Minum ini merupakan program berbasis hasil, PDAM harus membangun terlebih dahulu sejumlah sambungan yang ditargetkan dengan dana investasi yang dikeluarkan pemerintah daerah di rumah-rumah yang masuk terkategori MBR sesuai dengan hasil survei awal. Setelah sambungan terbangun dengan baik dan telah terverifikasi, air telah bisa dinikmati oleh warga MBR sasaran selama minimal 2 bulan (dibuktikan dengan slip pembayaran bulanan ke PDAM), pemerintah daerah mengajukan mengajukan pencairan dana hibah (reimbursement) ke Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan dana itu akan ditransfer ke rekening pemerintah daerah.
Program ini berhasil membantu pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor dalam hal peningkatan cakupan pelayanan air bersih kepada masyarakat, terutama MBR yang berminat untuk berlangganan air PDAM (willingness to pay) tetapi tidak memiliki biaya cukup untuk pemasangan (no willingness to connect).
Bogor, tempat tinggal pak Edi adalah kota hujan yang membuat air di daerah itu berlimpah secara alamiah. Masyarakatnya secara tradisional dapat dengan mudah mengkonsumsi air tanah ataupun air sungai yang “jernih”. Sayangnya, belum banyak anggota masyarakat yang tahu bahwa air jernih itu belum tentu menyehatkan baik dilihat dari parameter fisika, kimia maupun bakteriologi. Ini menjadi tantangan bagi PDAM untuk memberikan edukasi dan publikasi kepada masyarakat mengenai pengertian “air bersih” yang benar dari segi kesehatan, kemanfaatan serta penghematan. Untuk itu, IndII juga mendukung PDAM setempat untuk melakukan penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat agar memanfaatkan air bersih yang aman dikonsumsi selain hemat dan mudah didapat sehingga menuai berkah.
Hendra Setiawan
Kabag. Humas PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor